Pages

Jumat, 03 November 2017

NAHDLATUL WATHAN, VISI KEBANGSAAN DAN ISLAM KULTURAL

NAHDLATUL WATHAN, VISI KEBANGSAAN DAN ISLAM KULTURAL
                            Oleh : Paox Iben Mudhaffar
 
            Ahad, 22 Agustus 1937 mungkin adalah hari terpenting dalam sejarah kehidupan masyarakat Lombok. Dihari pertama minggu ketiga bulan Jumadil akhir 1356 H itulah Al-Magfirullah Maulana Syeikh TGH Zainuddin Abdul Majid mendirikan organisasi Islam bernama Nahdlatul Wathan yang berarti Persatuan Kebangsaan.  Itu berarti hanya berselang 25 Tahun setelah KH Ahmad Dahlan mendirikan persyarikatan Muhammadiyah di Jogjakarta dan 10 tahun ketika Hadrotus Syeikh Al-Akbar Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlotul Ulama di Jombang. Sebuah langkah yang sangat maju luar biasa dalam konteks semangat kebangsaan saat itu dan akan dikenang oleh umat muslim, khususnya di Indonesia hingga akhir zaman. Betapa tidak, melalui persyarikatan yang memiliki makna Kebangkitan Bangsa tersebut nilai-nilai kebangsaan mendapat ruang dalam pemahaman keIslaman bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.  
            Situasi dunia akhir abad 19 atau awal abad ke 20 itu memang penuh pergolakan. Kolonialisme yang sudah bercokol ratusan tahun pasca perang salib itu sedang mendekati sekarat dan mendapat perlawanan yang luar biasa dari masyarakat terjajah khususnya di Asia dan Afrika yang mayoritas berpenduduk Islam. Mereka berjuang dengan berbagai cara, masyarakat Islam terutama, melakukan perlawanan dengan mengobarkan perang sabil seperti yang dilakukan oleh sebagian besar bangsa arab, di Afrika utara atau seperti yang dikobarkan oleh Pangeran Diponegoro dan Masyarakat Aceh di Nusantara.
             Memasuki abad ke 20, metode perjuanganpun banyak mengalami perubahan, terutama bukan saja bagaimana mengusir bangsa-bangsa asing yang dianggap kafir, tetapi juga bagaimana mengejar ketertinggalan dan keterbelakangan akibat penjajahan itu. di dunia islam kita mengenal gerakan Pan Islamisme ala Jamaludin al-Afgani yang disebut sebagai Bapak Islam Modern atau Muhammad Abduh yang mengilhami berdirinya persyarikatan Muhammadiyah dan Nahdlotul Ulama di Indonesia. Melalui perjuangan panjang itu sebagian mampu memerdekaakan diri, namun sebagian besar kebingungan merumuskan paham baru kebangsaan. Ada yang masih berkutat dengan paham lama Monarkhisme, ada pula yang mencari bentuk baru seperti paham Negara bangsa dengan segala variannya.  
            Saya bayangkan kehidupan masa muda Maulana Syeikh—yang memiliki nama kecil Muhammad Asegaff yang berarti tukang memperbaiki genting itu,--terutama ketika beliau belajar di Saudi Arabia 1910-an itu selalu diliputi kegelisahan memikirkan nasib masyarakatnya, bangsanya, yang masih berada dalam cengkraman kolonialisme. Kehidupan Kota makkah saat itu, yang didatangi oleh umat islam dari berbagai penjuru dunia untuk melaksanakan ibadah haji, umrah maupun menuntut ilmu memang sangat kondusif untuk merumuskan paham perjuangan. Kakek saya yang ikut pergi haji orang tuanya pada umur belasan tahun pada tahun 1930-an sering bercerita bahwa di Kota Makkah, terutama dilingkaran Masjidil haram banyak dipenuhi halaqoh-halaqoh diskusi yang diikuti oleh pemuda dari berbagai bangsa yang belajar menuntut ilmu di sana. Mereka tentu tak hanya belajar ilmu keagamaan, mereka terbiasa saling berdiskusi berbagi pengalaman tentang kondisi sosial diwilayah masing-masing dan bagaimana mencari solusi pemecahannya. sebab apa artinya menuntut ilmu tinggi-tinggi dan jauh-jauh jika tak berguna untuk situasi actual yang dihadapi banyak bangsa islam yang masih berada dalam kungkungan tuan kolonialis saat itu?  
             Di sela-sela kesibukan mengaji ilmu agama serta menulis berbagai tafsir serta syair perenungan hidup dan keimanan itulah beliau terus berpikir tentang kondisi social, budaya dan keterbelakangan yang dihadapi bangsanya. Maka ketika pulang kampung, beliaupun langsung berkiprah dimasyarakat dengan mendirikan Pesantren Al-Mujahidin pada 1934 M. Pada 15 Jumadil Akhir 1356 H/ 22 Agustus 1937 M didirikanlah Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI. Madrasah ini konon merupakan madrasah pertama di Pulau Lombok dan menjadi cikal bakal dari semua madrasah yang bernaung di bawah organisasi Nahdlatul Wathan.
            Sejak awal mendirikan pondok pesantren tersebut, Maulanasyeikh menanamkan semangat keislaman dan kebangsaan pada murid-muridnya. Beliau juga cukup aktif berdakwah hingga kepelosok kampung dan mendirikan berbagai amal usaha khususnya bidang pendidikan, sosial, dan pemberdayaan umat. Beliau memang sosok yang sangat istimewa. Semasa hidupnya, Tuan Guru Kiai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid juga berkiprah dalam banyak bidang. Beliau pernah menduduki berbagai jabatan, baik di lembaga legislatif dan keagamaan. Selain itu, dalam usia yang mencapai satu abad, tercatat puluhan karya yang dihasilkannya.
            Meskipun tidak mendapat gelar pahlawan nasional tetapi beliau adalah sosok pahlawan yang sebenarnya. Bukan hanya bagi masyarakat Lombok tetapi untuk bangsa Indonesia pada umumnya dan masyarakat Islam di seluruh dunia. Namanya termashyur diseluruh jagad, terutama didunia islam melalui berbagai kiprahnya seperti yang diungkapkan oleh Sayyid Muhammad Alawi Abbas Al-Maliki Al-Makki, seorang ulama besar Kota Suci Makkah “Tidak ada seorang pun ahli ilmu di Kota Suci Makkah Al-Mukarramah, baik thullab maupun ulama yang tidak kenal akan kehebatan dan ketinggian ilmu Syekh Zainuddin. Syekh Zainuddin adalah ulama besar yang tidak hanya milik umat Islam Indonesia, tetapi juga milik umat Islam sedunia," ujarnya.

 NW Antara Gerak Puritan dan Semangat Kultural
            Maulana Syeikh TGKH Zainuddin Abdul Majid sadar betul bahwa bahwa masyarakat Lombok khususnya masyarakat Sasak jauh tertinggal dari masyarakat lainnya terutama selain karena penjajahan oleh Belanda, Pulau Lombok saat itu juga dikuasai oleh warisan kerajaan Karangasem Bali yang notabene beragama Hindu. Jika dalam masyarakat Hindu Bali mengenal empat kasta, bisa dibayangkan bagaimana kedudukan masyarakat Sasak pada umumnya dalam system ekonomi, politik, social dan kebudayaan yang penuh penindasan itu. Oleh karena itu diperlukan kiat-kiat tersendiri bagaimana mengusung dakwah yang lebih sesuai dengan karakteristik masyarakat Lombok, khususnya masyarakat Sasak.
            Beliau yang saat itu baru pulang dari negeri Arab, tentu sangat dipengaruhi oleh perkembangan situasi dimana berbagai paham cukup “seksi” saat itu seperti modernisme dalam islam yang dipelopori oleh Jamaludin al Afgani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridho atau aliran yang cukup keras seperti Wahabi yang berkembang luas mempengaruhi para santri ditanah suci. Tetapi Beliau yang belajar tafsir dan sastra saat itu tidak serta merta menggunakan pendekatan puritanistik, normatif dan tekstualis yang cenderung kaku dalam metode dakwahnya. Beliau terjun langsung ketengah-tengah masyarakat, berceramah diperkampungan-perkampungan dengan bahasa yang dikenali dan mudah dipahami oleh masyarakat sehari-hari. Merangkul mereka, untuk lebih memahami persoalan yang dihadapi dengan cara yang cukup “lumrah” sesuai dengan yang disyariatkan agama Islam.   
            Menurut para tetua adat di Sembalun dan Bayan misalnya, sejak dari masa muda Beliau sudah sering berdakwah dikedua tempat itu meskipun saat itu kondisinya masih sangat rawan dan harus melewati jalan setapak menerobos hutan yang sangat lebat. Maulana Syeikh adalah seorang orator yang ulung serta sangat cerdas dalam berdiskusi. Beliau juga sangat mengenal karakteristik masyarakat sehingga mampu mengangkat kearifan-kearifan local dalam metode dakwahnya. Bagaimana misalnya, Mitos Dewi Anjani yang merupakan warisan hindu itu mampu beliau gunakan untuk memperkuat keislaman dan menggiring kepada pemahaman ketauhidan.
            Maulana Syeikh juga menyadari bahwa pendidikan adalah salah satu kunci utama bagaimana umat  Islam bisa bangkit dari keterpurukan terutama akibat penjajahan yang berkepanjangan tersebut, maka beliaupun membangun pesantren selain sebagai basis kegiatan keagamaan juga untuk mempersiapkan kader-kader yang tangguh.Almagfirullah TGKH Juaini dari Tanak Beak misalnya, pernah mengemukakan bahwa sebagai murid pertama maulana Syeikh beliau ditugaskan langsung untuk berdakwah di wilayah Narmada yang merupakan daerah basis Hindu. Begitu juga dengan santri-santri yang lain disebar keseluruh penjuru pulau Lombok.  Sebelum mereka berhasil mendirikan pesantren, tentu harus “berjibaku” terlebih dahulu dengan kehidupan social kemasyarakatan yang tentu saja tidak mudah. Namun berbekal ilmu keagamaan dan ilmu kehidupan yang mereka timba dari Pancor, terutama melalui persinggungan secara pribadi melalui keteladanan yang dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari oleh maulana syeikh, merekapun mampu mengatasi keadaan. Alhasil pesantren-pesantren NW dan amal usaha lainnya tersebar diseluruh pelosok pulau Lombok serta terus berkembang hingga hari ini.
            Dalam konteks pendidikan, pesantren NW tidak hanya bergerak dalam bidang pengajaran formal tetapi juga melakukan intervensi (positif) dalam kehidupan social kemasyarakatan. Predikat Tuan Guru yang secara tradisional melekat kepada mereka yang memimpin Pondok pesantren biasanya juga muncul karena peran serta dan ketokohannya dalam kehidupan kemasyarakatan. Sebutan Tuan Guru adalah gelar mulia bagi mereka yang memiliki kualitas keilmuan (agama dan umum) serta kearifan yang mampu menjawab persoalan-persoalan nyata yang dihadapi masyarakat dalam kehidupan keseharian.
            Untuk menghadapi masyarakat yang sering terlibat dalam kekerasan serta bekubang dalam kejahatan seperti para pencuri dan perampok di Lombok selatan, Almagfirullah TGH Abdul Majid dari Beleka Lombok Tengah, misalnya, diawal kiprahnya beliau tidak serta merta membangun masjid atau pesantren untuk kegiatan berdakwahnya tetapi justru membuat pasar. Hal tersebut tentu sangat kontekstual dan menjawab kebutuhan masyarakat.  Demikianlah peran dan ketokohan para Tuan guru diteguhkan oleh masyarakat dalam kehidupan keseharian.

 Memikirkan Kembali  Visi Kebangsaan
            Meskipun saat ini boleh dibilang NW hanya berkembang Di Pulau Lombok, namun dengan pengikut lebih dari 2 juta orang yang tersebar diseluruh dunia tentu keberadaannya tidak bisa dianggap remeh. Jika kita menilik dari semangat awal ketika Maulana Syeikh mendirikan organisasi ini 76 yang lalu, NW bukanlah organisasi atau lembaga yang berwatak lokal. NW lahir dalam sebuah gelora semangat kebangsaan untuk menjunjung tinggi harkat dan martabat kehidupan melalui paham ke-Islaman yang bercirikan ketauhidan.  
            Sebagai organisasi yang cukup besar NW  senantiasa dihadapkan pada tantangan yang tidak mudah untuk dilalui terutama berkaitan dengan persoalan ekonomi, social dan… tentu saja politik. Secara internal NW dituntut untuk memiliki system menejemen yang lebih baik, terutama menyangkut keorganisasian dan pengelolaan amal usaha yang lebih akuntable untuk mendukung visi dan misinya.  Dan di luar persoalan internal keorganisasian tersebut, NW dihadapkan pada sebuah tantangan besar, bagaimana mengahadapi situasi kekinian terutama dalam konteks kebangsaan atau ke Indonesiaan yang tengah mengalami berbagai krisis ini. Mampukah kader-kader NW, melalui berbagai kiprahnya dan amal usaha yang dimiliki oleh organisasi menjawab tantangan zaman tersebut?
Bersambung… (1 dari 2 tulisan)



1 komentar:

  1. Use this diet hack to drop 2 lb of fat in just 8 hours

    Over 160 000 women and men are losing weight with a easy and secret "liquid hack" to burn 2 lbs each and every night as they sleep.

    It is very easy and it works every time.

    Here's how to do it yourself:

    1) Take a glass and fill it up half glass

    2) Now do this amazing HACK

    so you'll be 2 lbs lighter when you wake up!

    BalasHapus

Syukron Katsir Telah berkunjung di My Blog Rizal EnsyaMada_@Rizal_EsnyaMada