Pages

Sabtu, 12 Januari 2013

Paradigma dalam Penelitian Tindakan Kelas


BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Indonesia sudah lama merdeka, tetapi belum memiliki kualitas sumber daya manusia yang memadai. Hal ini  antara lain disebabkan oleh karena kualitas penyelenggaraan dan hasil pendidikan dari berbagai jalur, jenjang dan jenis pendidikan belum memadai. Rendahnya kualitas penyelenggaraan dan hasil pendidikan disebabkan oleh karena pembuatan kebijakan, pengembangan kurikulum dan pembelajaran  yang akan digunakan, pengadaan dan penembangan tnaga pendidikan , system penggajian, system evaluasi, dan pengadaan sarana dan prasarana tidak didasarkan dari hasil penenlitian yang memadai.
Berdasarkan hal tersebut, dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan pada generasi yang tinggi maka setiap upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan perlu dilakukan melalui penelitian. Penelitian dapat diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Supaya penelitian dapat menghasilkan informasi yang akurat, maka perlu menggunakan metode penelitian yang tepat.
Metode penelitian secara umum dapat diklasifikasikan menjadi tiga yaitu metode kuantitaif dan kualitatif dan metode R&D (research and development). Metode kuantitiatif dan kualitatif sering dipasangkan dengan nama metode yang tradisional, dan metode baru; metode positivistic dan metode postpositivistik; metode scientific dan metode artistic, metode konfirmasi dan temuan; serta kuantitatif dan interpretif.
Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi tau sample tertentu, teknik pengambilan sample pada umumnya dilakukan  secara random, pengumpulan data menggunakan instrument penelitian, analisis data bersifat kuantitatif / statistic dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. Salah satu penelitian yang menggunakan metode kuantitaif yaitu Penelitian Tindakan Kelas ( PTK).
Di bidang pendidikan, khususnya kegiatan pembelajaran, PTK berkembang sebagai suatu penelitian terapan. PTK sangat bermanfaat bagi guru untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran dikelas. Jadi dapat diartikan PTK merupakan suatu penelitian yang mengangkat masalah-masalah actual yang dihadapi oleh guru di lapangan. Dengan melaksanakan PTK, guru memiliki peran ganda, yaitu sebagai paktisi dan peneliti.
Berdasarkan uraian singkat diatas, maka dalam makalah ini akan membahas tentang kerangka berpikir / paradigma dalam Penelitian Tindakan Kelas dan Hipotesis Tindakan dalam Penelitian Tindakan Kelas.

B.     Rumusan Masalah
a.       Bagaimana membentuk suatu kerangka berfirkir / paradigma dalam Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ).
b.      Bagaimana menyusun hipotesis tindakan dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
C.    Tujuan
Pnyusunan makalah ini memiliki tujuan sebagai berikut :
a.       Untuk dapat mengetahui cara membentuk kerangka berfirkir / paradigma dalam Penelitian Tindakan Kelas ( PTK )
b.      Untuk mengetahui langkah dalam menyusun hipotesis tindakan pada Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ).
c.       Untuk memenuhi tuntutan tugas sebagai syarat dalam mata Kuliah Penelitian Tindakan Kelas ( PTK )
D.    Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat memberi manfaat pengetahuan bagi Mahasiswa / -siswi tentang kerangka berpikir / paradigma dan hipotesis tindakan dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebagai wawasan awal dalam menyusun sebuah penelitian dimasa yang akan datang.




BAB II
PEMBAHASAN


A.    Pengertian Metode Penelitian
Secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Terdapat empat kata kunci yang perlu diperhatikan yaitu, cara ilmiah, data, tujuan, dan kegunaan tertentu.
Metode penelitian pendidikan dapt diartikan sebagai cara ilmiah untutk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat ditemkan, dikembangkan, dan dibuktikan, suatu pengetahuan teretentu sehingga pada giliranya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan, dan mengantisipasi masalah dalam bidang pendidikan.
(Prof. Dr. Sugiyono, 2009 : 6 )
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian yang dilakukan oleh guru dikelasnya sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sehingga hasil belajar siswa meningkat. Belakangan ini Penelitian Tindakan kelas (PTK) semakin menjadi trend untuk dilakukan oleh para professional sebagai upaya pemecahan masalah dan peningkatan mutu di berbagai bidang.
Di bidang pendidikan, khususnya kegiatan pembelajaran, PTK berkembang sebagai suatu penelitian terapan. PTK sangat bermanfaat bagi guru untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran dikelas. Jadi dapat diartikan PTK merupakan suatu penelitian yang mengangkat masalah-masalah actual yang dihadapi oleh guru di lapangan. Dengan melaksanakan PTK, guru memiliki peran ganda, yaitu sebagai paktisi dan peneliti. PTK memiliki karakteristik sebagai berikut :
a.       An inquiry of pactice fom within (penelitian berawal dari kerisauan guru akan kinerjanya)
b.      Self-reflectife inquiry (metode utama adalah refleksi diri, bersifat agak longgar, tetapi tetap mengikui kaidah – kaidah penelitian).
c.       Focus penelitian berupa kegiatan pembelajaran.
d.      Tujuanya ; memperbaiki pembelajaran.
(Zainal Aib, dkk, 2008: 3)
B.     Paradigma Penelitian
Dalam penelitian kuantitatif, yang dilandasi pada suatu asumsi bahwa suatu gejala itu dapat diklasifikasikan, dan hubungan gejala bersifat kausal (sebab akibat), maka peneliti dapat penelitian dengan memfokuskan kepada beberap variable saja. Pola hubungan antara variable yang akan diteliti tersebut selanjutnya disebut sebagai paradigma penelitian.
Jadi paradigma penelitian dalam hal ini diartikan sebagai pola pikir yang menunjukkan hubungan antara variable yang akan diteliti yang sekaligus mencerminkan jenis dan jumlah rumusan masalah yang perlu dijawab melalui penelitian, teori yang digunakan untuk merumuskan Hipotesis, jenis dan jumlah hipotesis, dan teknik analisis statistik yang akan digunakan. Sehingga banyak bentuk - bentuk paradigma yang dapat digunakan dalam penelitian tergantung pada penelitian yang bagaimana yang akan dilakukan oleh peneliti. Bentuk – bentuk paradigma penelitian  tersebut antara lain ; paradigma sederhana, paradigma sederhana berurutan, paradigma ganda dengan dua variable indpenden, paradigma ganda dengan tiga variable indpenden, dan lain – lain.
 (Prof. Dr. Sugiyono, 2009 : 65 )

C.    Kerangka Berpikir Dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Kerangka berpikir adalah serangkaian konsep dan kejelasan hubungan antar konsep tersebut yang dirumuskan oleh peneliti berdasar tinjauan pustaka, dengan meninjau teori yang disusun dan hasil-hasil penelitian yang terdahulu yang terkait.
Kerangka pikir ini digunakan sebagai dasar untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian yang diangkat. Atau, bisa diartikan sebagai mengalirkan jalan pikiran menurut kerangka logis (construct logic) atau kerangka konseptual yang relevan untuk menjawab penyebab terjadinya masalah. Untuk membuktikan kecermatan penelitian, dasar dari teori tersebut perlu diperkuat oleh hasil-hasil penelitian terdahulu yang relevan.
Kerangka pikir itu penting untuk membantu dan mendorong peneliti memusatkan usaha penelitiannya untuk memahami hubungan antar variabel tertentu yang telah dipilihnya, mempermudah peneliti memahami dan menyadari kelemahan/keunggulan dari penelitian yang dilakukannya dibandingkan penelitian terdahulu.
Langkah-langkah membangun kerangka penelitian atau paradigma penelitian, diantaranya:
1.      Pahami keadaan objek penelitian dengan cermat, sehingga dapat merumuskan masalah penelitian yang jelas dan research question yang jelas pula
2.      Pahami tujuan penelitian, dan tuliskan tujuan penelitian dengan rinci menjadi tujuan umum dan tujuan khusus
3.      Pelajari teori yang relevan, yang berhubungan dengan subjek penelitian Anda
4.      Pahami konsep-konsep yang diuraikan dalam teori tersebut dengan cermat. Hal ini sangat penting agar tidak membuat kekeliruan ketika menyusun kerangka fikir dan menterjemahkan konsep menjadi variabel.
5.      Pelajari hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian Anda (tujuannya, pendekatannya, sampling, variabel-variabel utama, instrumen penelitian, metode analisa data, kesimpulan dan implikasinya).
6.      Kembangkan pengetahuan yang diperoleh berdasar keyakinan/pengetahuan peneliti sendiri, untuk menyusun kerangka fikiran (kerangka konseptual) penelitian yang diharapkan dapat menjawab research questions penelitian tersebut.
(http://www.akishaq.com/search?q=paradigma+dalam+penelitiann+tindakan+kelas)

Uma Sekaran dalam bukunya Business Research (1992) mengemukakan bahwa, kerangka berpikir meruakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai factor yang telah diidentifikasi sebagai masalah ynag penting.
Kerangka berfikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antar variable yang akan diteliti. Jadi secara teoritis perlu dijelaskan hunbungan antar variable independen dan dependen. Pertautan antar veriable tersebut, selanjutnya dirumuskan ke dalam bentuk paradigama penelitian. Oleh karena itu pada setiap penyusunan paradigma penelitian harus didasarkan pada kerangka berfikir.
Dalam menyusun suatu kerangka berfikir terdapat langkah – langkah yang akan dijelaskan sebagai berikut :
a.   Menetapkan Variable Yang Akan Diteliti
Untuk menentukan kelompok teoi apa yang perlu dikemukakan dalam menyusun erangka berfikir untuk pengajuan hipotesis, maka harus ditetapkan terlebih dahulu variable penelitiannya. Berapa jumlah variable yang diteliti, dan apakah nama setiap variable, merupakam titik tolak untuk menentukan teori yang akan dikemukakan.
b.   Membaca Buku dan Hasil Penelitian( HP)
Setelah variable ditentukan, maka langkah berikutnya adalah membaca buku – buku dan hasil penelitian yang relevan.
c.    Deskripsikan Teori dan Hasil Penelitian (HP)
Dari buku dan hasil penelitian yang dibaca akan dapat dikemukakan teori-teori yang berkenaan dengan variable yang diteliti. Seperti telah dikemukakan, dekskripsi teori tentang, definiisi terhadap masing – masing variable yang diteliti, dan kedudukan antara variable satu dengan yang lain dalam konteks penelitian itu.
d.   Analisis Kritis terhadap Teori dan Hasil Penelitian
Pada tahap ini peneliti melakukan analisis secara kritis terhaadap teori-teori dan hasil penelitin yang telah dikemukakan. Dalam analisis ini peneliti akan mengkaji apakah teori-teori dan hasil penelitian yang telah ditetapkan itu betul-betul sesuai dengan objek peneliian atau tidak, karena sering rjadi teori-teori yang berasal dari luar tidak sesuai untuk penelitian di dalam negeri.
e.    Analisis Komparatif  Tehadap Teori dan Hasil Penelitian
Analisis komparatif dilakukan dengancara membandingkan antara eori satu dengan teori yang lain, dan hasil penelitian satu dengan penelitian yang lain. Melelui analisis komparatif ini peneliti dapat memadukan antara teori satu dengan teori yang lain, atau mereduksi bila dipandang terlalu luas.
f.     Sintesa Kesimpulan
Melalui analisis kritis dan kompratif terhadap teori-teori dan hasil penelitian yang relevan dengan semua variable yang diteliti, slanjutnya pene;liti dapat melakukan sintesa atau kesimpulan sementara. Perpaduan sintesa antara variable yang lain akan menghasilkan kerangka berfikir yang selanjutnya dapat digunakan unuk merumuskan hipoesis.
g.   Kerangka Berfikir
Setelah sintesa atau kesimpulan sementara dapat dirumuskan maka selanjutnya disusun kerangka berikir yang asosiatif / hubungan maupun komparatif / perbandingan. Kerangka berfikir asosiatif dapat menggunakn kalimat : jika begini maka kan begitu. Sebagai contoh ; jika guru kompeten, maka hasil belajar akan tinggi.
h.   Hipotesis
Berdasrkan kerangka berfikir tersebut selanjutnya disusunlah sebuah hipotesis. Jika kerangka berfikir berbunyi “jika guru kompeten, maka hasil belajar akan tinggi”, maka hipotesisnya akan berbunyi “ ada hubungan yang positif dan signifikan antara kompetensi guru dengan hasil belajar”
Selanjutnya Uma Sekaran (1992) mengemukakan bahwa, kerangka berfikir yang baik, memuat hal-hal sebagai berikut :
a)      Variable-variable yang akan diteliti harus dijelaskan.
b)      Diskusi dalam kerangka berfikir harus dapat menunjukkan dan menjelaskan pertautan / hubungan  antar variable yang diteliti dan ada teori yang melandasi.
c)      Diskusi juga hrus dapat menunjukan dan menjelaskan apakah hubungan antar variable itu positif atau negative, berbentuk simetris, kausal atau interaktif (timbale balik)
d)     Kerangka berfikir tersebut selanjutnya perlu dinyatakan dalam benuk diagram (paradigm penelitian), sehingga pihak lain dapat memahami kerangka piker yang dikemukakan dalam penelitian.
(Prof. Dr. Sugiyono, 2009 : 91 )
D.    Hipotesis Tindakan Dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Hipotesis diartikan sebagai dugaan sementara pada penelitian yang akan dilakukan. Termasuk dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas, hipotesis dibutuhkan sebagai acuan peneliti, yang disebut dengan hipotesis teindakan.
Hipotesis dalam penelitian tindakan bukan hipotesis perbedaan atau hubungan yang terdapat pada metode-metode penelitian lain, melainkan hipotesis tindakan. Idealnya hipotesis penelitian tindakan mendekati keketatan penelitian formal. Namun situasi lapangan yang senantiasa berubah membuatnya sulit untuk memenuhi tuntutan itu.
Rumusan hipotesis tindakan memuat tindakan yang diusulkan untuk menghasilkan perbaikan yang diinginkan. Untuk sampai pada pemilihan tindakan yang dianggap tepat, peneliti dapat mulai dengan menimbang prosedur-prosedur yang mungkin dapat dilaksanakan agar perbaikan yang diinginkan dapat dicapai sampai menemukan prosedur tindakan yang dianggap tepat.
Beberapa acuan penyusunan hipotesis tindakan dalam PTK, antara lain:
1.      Menjawab rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian
2.      Merupakan jawaban sementara dari kajian teori yang disusun oleh peneliti
3.      Merupakan jawaban sementara dari kerangka berpikir
(http://www.ak-ishaq.com/search?q=paradigma+dalam+penelitiann+tindakan+kelas)

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teoriyang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban  teoritis terhadap rumusan masalah penellitian, belum jawabamzn yang empiric dengan data.
Penelitian yang merumuskan hipotesis adalah penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitaif, seperti halnya penelitaan tindakan kelas (PTK).
 Karakteristihipotesis yang baik sebagai berikut:
a.       Merupakan dugaan terhadap keadaan variable mandiri, perbandingan keadaan variable pada berbagai sampel, dan merupakan dugaan tentnag hubungan antara dua variable atau lebih. (pada umumnya hipotesis deskriptif tidak dirumuskan)
b.      Dinyatakan dalam kalimat yang jelas, sehingga tidak menimbulkan berbagai penafsiran.
c.       Dapat diuji dengan data yang dikumpulkan dengan metode – metode ilmiah.

BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan

Paradigma penelitian dalam hal ini diartikan sebagai pola pikir yang menunjukkan hubungan antara variable yang akan diteliti yang sekaligus mencerminkan jenis dan jumlah rumusan masalah yang perlu dijawab melalui penelitian, teori yang digunakan untuk merumuskan Hipotesis, jenis dan jumlah hipotesis, dan teknik analisis statistik yang akan digunakan. Sehingga banyak bentuk - bentuk paradigma yang dapat digunakan dalam penelitian tergantung pada penelitian yang bagaimana yang akan dilakukan oleh peneliti. Bentuk – bentuk paradigma penelitian  tersebut antara lain ; paradigma sederhana, paradigma sederhana berurutan, paradigma ganda dengan dua variable indpenden, paradigma ganda dengan tiga variable indpenden, dan lain – lain.
Kerangka berpikir adalah serangkaian konsep dan kejelasan hubungan antar konsep tersebut yang dirumuskan oleh peneliti berdasar tinjauan pustaka, dengan meninjau teori yang disusun dan hasil-hasil penelitian yang terdahulu yang terkait.
Hipotesis diartikan sebagai dugaan sementara pada penelitian yang akan dilakukan. Termasuk dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas, hipotesis dibutuhkan sebagai acuan peneliti, yang disebut dengan hipotesis teindakan.
Setelah diuraikan dalam pembahasan pada bab sebelumnya, maka jelaslah bahwa kerangka berpikir / paradigma dan hipotesis tindakan dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) menjadi sangatlah penting sebagai komponen inti dalam penyusunan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).






DAFTAR PUSTAKA


Sugiyono, prof. Dr.2009. Metode Penelitian Pendidikan.Bandung. CV. Alfabeta
Aqib, Zainal dkk.2009. penelitian tindakan kelas. Bandung. Cv. Yrama Widya


1 komentar:

Syukron Katsir Telah berkunjung di My Blog Rizal EnsyaMada_@Rizal_EsnyaMada